Kamis, 16 April 2015

Mari Merenung ...

Mari Merenung …

Dahulu kita biasa mendengar khatib berdoa, "Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami di Palestina.".
Ditahun2 selanjutnya, sang Khatib berdoa, "Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami di Palestina dan di Afghanistan.".
Selanjutnya, "Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami di Palestina,  Afghanistan dan Checnya.".
Selanjutnya, "Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami di Palestina,  Afghanistan, Checnya, dan Somalia.".
Selanjutnya, "Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami di Palestina,  Afghanistan, Checnya, Somalia, dan Iraq.".
Selanjutnya, "Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami di Palestina,  Afghanistan, Checnya, Somalia, Iraq, dan Burma.".
Selanjutnya, "Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami di Palestina,  Afghanistan, Checnya, Somalia, Iraq, dan Burma; serta hentikanlah pertikaian dan tumpahanya darah saudara kami di Suria, Mesir dan Yaman.".
Dan sekarang, doa yang kita dengar dari mereka adalah, "Ya Allah tolonglah Islam dan jagalah saudara-saudara kami di seluruh belahan dunia.".

Lantas, setelah itu, masih adakah yang tersisa dari ummat ini ?!.

Bangsa Cina, ketika mereka bangkit dan ingin membangun peradabannya yang independent; mereka bangun sebuah tembok pemisah yang kokoh dan menjulang dengan keyakinan bahwa tembok itu dapat menjamin mereka dari infiltrasi asing dalam peradabannya.

Namun selang 100 tahun setelahnya, ternyata mereka telah disusupi oleh kekeuatan asing sebanyak tiga kali. Untuk menembus dan memasukinya, mereka tidak butuh kekuatan dahsyat untuk meruntuhkan beberapa sisi tembok yang kokoh atau memanjat tembok yang menjulang itu. Mereka melakukan negosiasi sederhana dengan beberapa penjaga perbatasan, dan dengan beberapa nominal uang, masuklah mereka menjalankan misinya.

Yah … mereka telah berhasil membangun sebuah tembok pemisah yang kokoh dan menjulang. Namun sayang, mereka lupa membangun mental para penjaga …

Maka, membangun mental dan peradaban manusia hendaklah menjadi prioritas utama sebelum pembangunan dan perluasan fisik dan sarana-sarana penunjang lainnya. Inilah kebutuhan mendasar siswa-siswa kita saat ini …

Seorang misionaris berkata, jika hendak meruntuhkan peradaban ummat, maka runtuhkanlah dari mereka 3 hal, yaitu;
1_Runtuhkan keluarganya …
2_Rusak pendidikannya …
3_Lenyapkan dari mereka qudwah dan tokoh teladan …

Untuk meruntuhkan keluarganya, jadikanlah para wanita menjadi segan dan minder dengan profesinya sebagai ibu rumah tangga ;
Untuk merusak pendidikan, maka buatlah para guru menjadi hilang kepercayaan diri akan fungsinya dalam masyarakat … buat mereka menjadi sosok yang terpojok dan menjadi tidak berharga di mata para siswanya ;
Untuk melenyapkan sosok panutan, maka sasarlah para ulama. Ciptakanlah pola dan cara pandang yang menggiring orang untuk menyudutkan mereka, tidak hormat, mengecilkan peranannya, dan tidak percaya terhadap usulan serta saran yang mereka berikan.

Dan ketika sosok Ibu, guru yang tulus dan sosok qudwah rabbani ini telah lenyap … maka dengan itu misi meruntuhkan peradaban telah sukses …

Wallahul musta'an

Selasa, 07 April 2015

JANGAN JADI IKAN BUSUK

PENGGEMAR ikan tentu tahu bila di dalam keranjang ada satu ikan yang sudah busuk dibiarkan, maka akan menularkan aroma busuk kepada ikan yang lainnya. Segera buang atau pisahkan ikan busuk itu agar tidak merugikan pemilik ikan.

Begitu pula dalam kehidupan umat manusia, kebusukan akan cepat menyebar ke berbagai kalangan. Oleh karena itu, jangan jadi ikan busuk saat kita berada dalam suatu perusahaan, komunitas atau tim. Ingatlah “kebusukan” Anda dampaknya bukan hanya untuk Anda tetapi bagi orang-orang di sekitar Anda. Kebusukan itu menular dengan sangat cepat.

Kebusukkan dalam kehidupan sehari-hari muncul dari ucapan dan tindakan seseorang yang kotor dan negatif. Dan uniknya, penyebar kebusukan sebagian besar biasanya miskin prestasi, jarang mencapai target dan tidak perform dalam pekerjaannya. Sekali-kali boleh iseng ngomong kepada sumber “kebusukan” khususnya saat ia datang ingin mempengaruhi Anda, “Pasti belum punya prestasi hebat, ya?”

Ikan busuk itu tak ada harganya, kalaupun ada, pasti sangat murah. Ikan busuk bukan untuk dikonsumi manusia. Bahkan, sebagian binatang pun enggan mengonsumsinya. Seseorang yang menjadi “ikan busuk” dalam kehidupan juga harganya murah dan sulit untuk naik derajat hidupnya.

Jangan jadi ikan busuk di kantor.
Jangan jadi ikan busuk di lingkungan Anda.
Jangan jadi ikan busuk dimanapun dan kapanpun.

Salam SuksesMulia!

Sabtu, 04 April 2015

Antara Tempe Goreng dan Ayam Goreng

Antara Tempe Goreng dan Ayam Goreng

Hikmah & Renungan

Sabtu 14 Jamadilakhir 1436 / 4 April 2015

Oleh: Bagas Triyatmojo

MUNGKIN sekilas terlihat, kalau ayam goreng lebih “berkelas” ketimbang tempe goreng. Namun seringkali, saya menikmati tempe goreng yang sedap luar biasa, dan tak jarang, saya merasakan ayam goreng yang biasa saja.

Dari situ saya belajar, selain bahan dasarnya, cara memasaknya pun akan mempengaruhi rasa masakan, sehingga rasa tempe goreng pun, bisa melebihi rasa makanan sekelas ayam goreng.

Terkadang, kita merasa minder setelah melihat pencapaian seseorang, katakanlah, kualitas dia sekelas ayam goreng dilain pihak, kadang kita meratapi diri, “saya mah apa atuh, sekelas tempe goreng aja”

Bila kita tidak merubah cara kita “memasak” diri sendiri, maka kita akan tetap menjadi tempe goreng yang rasanya biasa saja.

Mungkin saatnya ini membenahi diri, membumbui diri dengan berbagai hal positif, dan memasak diri dengan sungguh sungguh, bukan sambil nonton sinetron atau baca komik.

Dan tak lupa satu pesan terakhir, kenapa masakan tempe goreng Ibu selalu terasa enak? Karena beliau memasak dengan cinta, untuk orang yang ia cintai. []

islampos mobile :