Senin, 08 September 2014

Hadist Nabi Nabi Allah

 

Makan Mahal di Warung Lesehan Sekitar Wisata Karang Bolong Bukan Isapan Jempol Belaka

Serang,FESBUK BANTEN News (7/9/2014) – Makan makanan disekitar kawasan wisata Anyer dekat Karang Bolong,Kabupaten Serang  dengan menu sedikit namun harus membayar dengan biaya mencekik, ternyata bukan hanya isapan jempol belaka.

Berdasarkan penelusuran langsung relawan FBn (Sabtu, 6September 2014)di lokasi yang diributkan di media sosial kaskus di warung lesehan di samping Mushola dekat kawasan wisata Karang Bolong . Ternyata memang benar  makan untuk empat orang denganmenu yang sedikit , pengunjung di warung tersebut harus membayar lebih dariRp500 ribu. Dan pemilik warung tersebut membantah jika pengunjung di warung tersebut harus membayar Rp 1 juta hanya untuk makan empat orang.

Dalam rekaman yang diperoleh relawan, ibu pemilik warung tersebut mengakui, bahwa makan untuk empat orang Rp500 ribu lebih. Dan kepada pengunjung dia tidak memperlihatkan daftar menu berikut  harganya yang disediakan warung tersebut. “Iya,yang makan tidak melihat daftar menu,” kata ibu pemilik warung tersebut.

Bahkan, berdasarkan penelusuran di warung sekitarnya, ada semacam “kesepakatan” warung-warung di sekitar tersebut tidak memperlihatkan daftar menu kepada para pengunjung. Dan menurut info yang didapat, ibu pemilik warung yang mengatrol harga terlalu tinggi di boikot oleh warung lainnya.Karena memberikan harga yang sangat tinggi.

Seorang pengguna facebook mengunggah sebuah bon atau kwitansi pembayaran makanan yang diakuinya berada di sebuah restoran di Anyer. Di kwitansi tersebut ada tujuh menu makanan dan minuman yang dipesan. Namun, harga tiap makanan terbilang mahal.

Dua ikan bakar dihargai Rp 400 ribu, 1 cumi saos tiram Rp 180 ribu, 3 cah kangkung Rp 200ribu, 1 baso sapi Rp 20 ribu, 2 nasi putih Rp 90 ribu, 2 lalap+sambal Rp 30ribu, dan 1 es teh manis Rp 80 ribu. Jumlah total yang harus dibayar oleh pemesan adalah Rp 1 juta.(noe/LLJ)



warung lesehan yang dihebohkan mahalwarung lesehan yang dihebohkan mahalpemilik warung lesehan yang dihebohkan mahalpemilik warung lesehan yang dihebohkan mahal

Selasa, 02 September 2014

Guru di Sekolah Tertinggal di Indonesia Tidak Terbiasa dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pengajaran

Guru di Sekolah Tertinggal di Indonesia Tidak Terbiasa dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pengajaran

 
Tarakan, Kalimantan Timur – Apakah bisa murid mempelajari sesuatu bila cara mengajar guru hanya dengan masuk ke kelas, membuka buku dan kemudian membacakan teks dengan keras?  Pertanyaan ini berkecamuk di pemikiran ribuan murid dan orang tua murid yang berada di desa-desa kecil yang tersebar di negara kita, dimana para guru sekolah dasar dan sekolah menengah pertama umumnya masuk ke dalam kelas dan “mengajar” dari buku tanpa membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
 Para pemerhati pendidikan melihat bahwa kondisi guru-guru yang “kurang bersemangat saat mengajar” disebabkan pada ketidaktahuan para guru untuk mempersiapkan Rencana Pelaksanan Pembelajaran yang baik.
 Anita lie, dari Universitas Katolik Widya Mandala di Surabaya mengatakan bahwa kualitas para guru yang berada di desa kecil, terutama yang berada di lokasi terpencil, merupakan masalah penting yang dihadapi.
”Banyak diantara mereka yang tidak tahu bagaimana menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang baik,” kata Anita, yang menambahkan bahwa didalam rencana pelaksanaan pembelajaran mencakup topik pelajaran dan strategi tentang bagaimana cara guru akan memberikan informasi ke para murid di kelas.
”Guru harus mempunyai rencana sebelum masuk kedalam kelas dan mengajar para murid.  Ini adalah hal paling dasar.” tuturnya.
Anita adalah fasilitator pelatihan guru bersama Tanoto Foundation, dan telah memberikan pelatihan lebih dari 200 guru di Pekanbaru, Riau, Bogor, serta Tarakan dan Balikpapan, Kalimantan Timur pada tahun 2006.
Dia meyakini bahwa para murid tidak bisa diharapkan dapat berkembang bila guru – guru di daerah tepencil tetap mengajar hanya dengan mengikuti buku dan tanpa membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
”Kondisi ini terjadi hampir di setiap desa kecil, bahkan di Pulau Jawa,” katanya.  “Situasi seperti ini bahkan terjadi lebih parah di Papua.  Pemerintah seharusnya melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah ini.”
Anita juga menambahkan bahwa para guru di daerah terpencil juga mengalami masalah lainnya, tidak hanya kurangnya fasilitas sekolah tetapi juga seperti masalah budaya, dimana mereka menghadapi murid-murid yang berasal dari berbagai suku daerah lokal yang terkadang tidak menganggap pentingnya bersekolah.
Yulius Labo, 52 tahun, Kepala Sekolah Sekolah Dasar 08 Sesayap di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Timur –yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan dengan menggunakan boat dari Tarakan- mengatakan disekolahnya hanya terdapat enam guru dan tidak satupun diantara mereka yang lulus kuliah.  Para guru disekolahnya tidak terlalu mampu dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan terkadang mereka meminta untuk disediakan fasilitas lain, seperti komputer.
”Tetapi disini kami tidak mempunyai listrik,” kata Yulius.
Yasa, guru sekolah dasar di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur mengatakan banyak dari rekan gurunya yang tidak pernah membuat Rencana Pelaksaanan Pembelajaran.
Dia menambahkan, beberapa dari rekan gurunya merasa sulit dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, terlepas bahwa sebenarnya mereka membutuhkan pelatihan terlebih dulu.
Selama pelatihan oleh Anita minggu lalu, para guru dan kepala sekolah diminta untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada selembar kertas kosong.  Mereka menuliskan apa yang telah mereka rencanakan saat mengajar dikelas dan tujuan pembelajaran.  Beberapa dari mereka juga membawa alat peraga, missalnya membawa bunga lili untuk pelajaran biologi, sehingga membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan.
Menurut Anita, para guru tidak memerlukan perlengkapan yang mahal dalammenyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.  Mereka hanya membutuhkan latihan dan menambah kreatifitas, yang umumnya bisa didapatkan dengan mengikuti pelatihan, membaca dan dukungan fasiltas yang memadai di sekolah mereka masing-masing.
Giri Suryatmana, Sekretaris Bagian Umum Pelatihan Guru untuk Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa terdapat sekitar 75.000 guru didaerah pedalaman, termasuk mereka yang berada di pulau-pulau terpencil. Jumlah ini dianggap minoritas mengingat di Indonesia terdapat 2.9 miliard guru negeri dan sekolah islam.
Menurut Giri, salah satu solusi bagi guru guru didaerah pedalaman adalah memberikan akses ke Internet.
”Walaupun dengan demikian, akan ada masalah lain.  Para guru di daerah pedalaman tidak melek Internet.  Ini bukanlah hal yang gampang untuk diselesaikan,” katanya.  “Mari kita menunggu kebijakan baru untuk para pendidik, selagi kita mengusahkan memberikan akses internet di wilayah-wilayah terpencil.”
Dia menyebutkan bahwa di devisinya telah menyelenggarakan project Internet untuk sekolah di 33 kabupaten, dan hasilnya ternyata para guru mendapati bahwa banyak metode pengajaran baru yang dapat dipelajari.
Sukemi, anggota special staff Kementerian Pendidikan, menyampaikan kepada Jakarta Globe bahwa di era otonomi daerah, para penyelenggara pemerintah daerah harus mengambil tanggung jawab dan melakukan sesuatu kepada para guru.
Dia memastikan bahwa kementerian tidak menutup mata mengenai permasalah ini.  “kementerian berkomitmen untuk menciptakan kebijakan baru dalam menghasilkan guru-guru yang berkualitas untuk mengajar di daerah terpencil.”

Senin, 01 September 2014

Rahasia Tua Tanpa Sakit-sakitan


(Khaerul Adha)

Jakarta Periset menyimpulkan, orang yang berusia lebih panjang adalah mereka yang umumnya memiliki kebiasaan hidup sehat. Berikut ini beberapa kebiasaan yang oleh webMD, Senin (1/9/2014) dianggap tetap membuat orang berjiwa muda meski usianya terus bertambah.
1. Tertawa dan bergembiralah, jangan murung.
2. Lupakan hal-hal yang sudah lewat. Terus terkenang pada hal-hal yang sudah lalu hanya akan mengundang stres yang tidak perlu.
3. Tidur lebih awal dan bangun sepagi mungkin adalah bijaksana dan menyehatkan.
4. Pelihara berat tubuh Anda. Kelebihan berat sampai 30 persen adalah buruk.
5. Selalu belajar, membaca, dan bersosialisasi. Pikiran yang selalu aktif dan waspada membuat sel-sel di otak sehat.