Kamis, 24 Juli 2014

APAKAH PERSYARATAN UNTUK MENJADI PEMIMPIN PENDIDIKAN



APAKAH PERSYARATAN UNTUK MENJADI PEMIMPIN PENDIDIKAN
Oleh : M. Yusuf Maha, S.pd
Guru SDN Dangdeur Kec. Cinangka
Pendahuluan
Pada dasarnya kita sebagai petugas lapangan tentunya guru-guru di SD-SD seluruh wilayah Provinsi Banten pada umumnya, guru-guru SD di wilayah kecamatan Cinangka pada khususnya, mengaharapkan atau berkeinginan mempunyai pemimpin yang efektif dan efisien, sudah barang tentu yang efeknya akan memperoleh berdaya guna dan berhasil guna, hal ini demi peningkatan dan kemajuan pendidikan dasar kita, dan tentu kita khususnya guru-guru akan  memperoleh kesemangatan dalam melaksanakan tugasnya.
Dalam hal ini penulis kemukakan yang berdasarkan melalui buku-buku yang bermanfaat serta pengamat penulis, bahwa untuk menjadi pemimpin pendidikan yang efektif dan efisien ada 15 persyaratan, marilah kita paparkan berikut ini :
Pemimpin bukan karena proses keturunan, dan bukan karena kekuatan fisik yang dimiliki, pada dirinya dan bukan pula karena kekayaan yang dimilikinya.
Oleh karena itu tidak semua orang yang orang tuanya menjabat suatu posisi pemimpin pasti menjadi pemimpin pula. Demikian pula setiap seorang yang diangkat secara “formal” dengan surat keputusan belum mampu menjadi pemimpin yang efektif. Bilamana seorang pemimpin formal tidak mampu menjalankan kepemimpinannya yang efektif, kerap kali fungsinya dijalankan orang lain sebagai pemimpin informal.
Seorang “kepala” sebagai pemimpin “formal” hanya akan menjadi pemimpin yang efektif bilamana mampu menjalankan kepemimpinannya mendorong, mempengaruhi dan mengarahkan kegitan dan tingkah laku orang-orang yang dipimpinnya.
Untuk menjabat sebagai seorang kepala dilingkungan suatu lembaga pendidikan, biasanya ditetapkan beberapa persyaratan itu antara lain ; pendidikan atau ijazah yang dimiliki, pengalaman yang sering dinyatakan dalam bentuk golongan atau kepangkatan bagi pegawai negeri, umur dan lain-lain. Persyaratan formal seperti tersebut diatas bukanlah yang dimaksud sebagai persyaratan kepemimpinan. Persyaratan itu adalah ketentuan untuk menduduki suatu jabatan tertentu yang mengharuskan seseorang yang mendudukinya menjalankan fungsi kepemimpinan untuk itu dengan atau tanpa menduduki jabatan seperti itu, seseorang dapat menjalankan fungsi kepemimpinan apabila memenuhi beberapa persyaratan yang urgen antara lain:



1.      MEMILIKI KECERDASAN atau INTELIGENSI YANG CUKUP BAIK
Seorang pemimpin harus mampu menganalisis masalah yang dihadapi organisasinya. Kemampuan itu kemungkinan seseorang memimpin mengarahkan pemikiran anggotanya dalam menyusun perencanaan dan menetapkan keputusan yang tepat dalam mewujudkan beban tugas organisasi. Disamping itu pemimpin pendidikan harus mampu membantu anggota kelompoknya mengatasi kesulitan yang timbul,  sehingga selalu di butuhkan kelompoknya bilamana menghadapi masalah. Dalam membantu anggota kelompok menyelesaikan masalah yang dihadapi, baik masalah-masalah pekerjaan maupun masalah pribadi harus ditumbuhkan dan didorong kemampuan dan keberanian mengatasinya. Masalah mengahadapi anggota, tidak berarti harus diselesaikan oleh pemimpin, akan tetapi harus di selesaikan sendiri oleh anggota yang bersangkutan. Untuk itu bantuan seorang pemimpin dapat berbentuk secara bersama-sama memikirkan alternative menyelesaikan masalah yang dihadapi itu dengan data yang ada. Tindakan pemecahannya harus dilakukan oleh yang bersangkutan dengan memilih alternative terbaik.

2.      PERCAYA DIRI DAN BERSIFAT MEMBERSIP
Seorang pemimpin harus selalu yakin bahwa dengan kemampuan yang dimilikinya setiap beban kerjanya akan dapat diwujudkan. Keyakinan akan kemampuan yang dimiliki itu tidak berarti seorang pemimpin harus bekerja sendiri. Pemimpin harus menjalani kerjasama dengan orang lain didalam kelompoknya. Pemimpin “yang baik”  tidak menjauhkan diri dari anggota kelompok, tidak mengasingkan diri karena merasa diri lebih penting dari anggota kelompok. Perasaan, pikiran, aspirasi dan keluhan-keluhan yang terdapat dan berkembang didalam kelompoknya. Akibatnya pemimpin yang seperti itu akan mampu melihat dan memecahkan masalah yang berkembang dalam kelompoknya secara efektif. Seorang pemimpin harus menempatkan diri sebagai anggota kelompoknya, bukan berdiri diluar kelompok. Dalam kedudukan seperti itu seorang pemimpin harus meyakinkan anggota kelompoknya mengenai pendapatnya atau keputusannya sesuatu yang terbaik untuk dilaksanakan, dengan berpegang pada prinsip mengutamakan kepentingan kelompoknya dan dengan berlandaskan pada kebenaran. Meyakinkan anggota bukan berarti memaksakan agar pendapat atau keputusannya agar dilaksakan, akan tetapi berusaha menanamkan pemahaman tetang kebenarnya sehingga berkembang kesediaan bekerja secara ikhlas sebagai perwujudan pendapat atau keputusan yang telah ditetapkan.

3.      CAKAP BERGAUL DAN RAMAH TAMAH
Seorang pemimpin harus diterima oleh anggota kelompoknya. Untuk  itu seorang “pemimpin” hanya akan efektif menjalankan kepemimpinannya bila mampu dan pandai bergaul dengan orang lain, mampu menghormati setiap orang dan bersedia memperlakukannya sebagai subyek, berarti mampu menghargai pendapatnya, buah pikirannya, kehendak, kemauan dan lain-lain. Dengan demikian sebaiknya berarti tidak memaksakan pendapat, buah pikiran, kehendak, kemauan sendiri sebagai sesuatu yang tidak “mungkin” salah sehingga tidak boleh dikritik dan dibantah. Pemimpin yang memiliki kemampuan bergaul akan mampu pula menghayati dan memahami sikap tingkahlaku, kebutuhan, kekecewaan yang timbul, harapan-harapan dan tuntunan anggota kemlompoknya. Pertalian hubungan harus dibina melalui sikap ramah dan hormat menghormati dalam bergaul dengan anggota kelompok walaupum kedudukan sekedar seorang pesuruh/penjaga. Sikap ramah dalam pergaulan ini, tidak sekedar diperlukan dalam hubungan manusiawi dengan anggota kelompok yang dipimpinnya, akan tetapi harus di kembangkan juga orang lain dimasyarakat kita.

4.      KREATIF, PENUH INISIATIF DAN MEMILIKI HASRAT KEMAUAN UNTUK MAJU DAN BERKEMBANG MENJADI LEBIH BAIK
Seorang pemimpin harus mampu memperakarasai suatu kegitan secara kreatif. Selalu terdorong untuk memunculkan inisiatif baru dalam rangka mewujudkan beban kerja, sebagai pencerminan kemauannya untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik dengan belajar dari setiap masalah, situasi dan orang lain yang dihadapinya. Dengan demikian kepemimpinan tidak bersifat statis dan dengan inisiatif dan kreatif selalu berusaha agar organisasi semakin mampu mewujudkan kerja secara efisien dan berkembang menjadi semakin baik.

5.      ORGANISATORIS YANG BERPENGARUH DAN BERWIBAWA (KEWAJIBAN) PEMIMPIN
Seorang pemimpin harus mampu mengelola kerjasama sekelompok manusia sebagai suatu organisatoris, dengan pembagian satuan kerja dan penempatan setiap personil secara tepat dan berdaya guna. Memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain dalam hubungan manusiawi yang diliputi situasi kewibawaan. Setiap personil menaruh rasa hormat dengan segan secara sewajarnya, sehingga bersedia melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pembagian kerja, yang menjadi tanggung jawabnya. Sehubungan dengan itu berat formal yang efektif  bagi perwujudan kerja atas dasar kesediaan kerja sama dengan saling menghormati.

6.      MEMILIKI KEAHLIAN ATAU KETERAMPILAN DALAM BIDANGNYA
Untuk mewujudkan kerja sesuai dengan sifat dan jenis organisasi yang mengemban misi tertentu, selalu di perlakukan personil yang memiliki ketrampilan atau keahlian yang berbeda antar satu dengan organisasi yang lain, untuk itu “seorang pemimpin pendidikan” harus “pengetahuan” dan pengalaman yang cukup dibidang pendidikan. Pengetahuan antara lain dinyatakan dari tingkat pendidikan formal yang pernah diterimanya. Pengalaman yang menyangkut aspek keterampilan yang bersifat praktis sangat tergantung pada kesediaan dan memanfaatkan situasi kerja yang pernah dihadapinya dalam jangka waktu tertentu. Pemimpin yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup dibidangnya, akan mampu melihat kedepan dalam meningkatkan perkembangan organisasi  yang dipimpinnya. Berbagai pengalaman masa lalu akan sangat berguna dalam mendukung pengetahuan yang dimiliki bilamana seorang pemimpin mengahadapi masalah-masalah baru.



7.      SUKA MENOLONG, MEMBERI PETUNJUK DAN DAPAT MENGHUKUM SECARA KONSEKUEN DAN BIJAKSANA.
Seorang pemimpin harus selalu berusaha membantu atau menolong orang-orang yang dipimpinnya apabila mengahadapi kesulitan, baik kesulitan dalam bidang kerja maupun kesulitan pribadi. Menolong agar orang tersebut mampu menolong diri sendiri. Disamping itu pemimpin juga harus bersifat tegas, lirih dan konsekuen  dalam mengatasi kekeliruan, kesalahan dan penyalahgunaan wewenang dikalangan anggotanya, tidak bersifat pilih kasih berat sebelah dan memihak. Sanksi dan hokuman harus diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kebijaksanaan dalam memberikan sanksi atau hukuman yang wajar diberikan bilamana terdapat alasan-alasan obyektif namun harus tetap diusahakan tidak merugikan organisasi secara keseluruhan dalam mencapai tujuan.

8.      MEMILIKI KESEIMBANGAN EMOSIONAL DAN BERSIFAT WAJAR
Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan emosional dan selalu memperguanakan pemikiran yang rasional dan logis dalam menghadapi masalah dan mengambil suatu keputusan dilakukan secara tergesa-gesa dan tidak matang. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seperti itu mengandung risiko yang dapat merugikan organisasi. Untuk itu seorang pemimpin harus bersifat sabar, teliti dan hati-hati, dalam arti selalu bersedia memanfaatkan dan mengolah data yang ada secara rasional dan logis sebelum memutuskan suatu pemecahan masalah atau memutuskan tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan.

9.      MEMILIKI SEMANGAT PENGABDIAN DAN KESETIAAN YANG TINGGI
Seorang pemimpin bekerja dan berbuat untuk kepentingan organisasi atau semua orang yang menjadi anggota kelompoknya. Mendahulukan kepentingan bersama diatas kepentingan sendiri atau sekelompok orang  tertentu. Pemimpin yang baik adalah yang selalu setia pada cita-cita organisasi atau lembaga yang dipimpinnya. Pengabdian lebih diutamakan dari pada keuntungan atau kepentingan pribadi sehingga tampak kesedihan berkorban dalam tingkah lakunya kepentingan  organisasi.

10.  BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN DAN BERTANGGUNG JAWAB
Seorang pemimpin selalu menjadi contoh atau patokan dari suritauladan  bagi orang-orang yang dipimpinnya. Oleh karena itu pemimpin harus berani mengambil keputusan sehingga kegiatan tidak tertunda dan setiap personil dapat mewujudkan dengan cara dan tepat waktu. Di samping itu pemimpin tidak boleh melimpahkan kesalahan pada orang yang dipercayakan keputusannya, apabila yang bersangkutan telah berusaha melaksanakannya dengan baik. Pemimpin dituntut mampu bertanggung jawab atas segala akibat dari keputusan yang ditetapkannya. Tanggung jawab bersama hanya patut diminta dari anggota lainnya bilamana keputusan di tetapkannya bersama pula. Namun tidak dapat disangkal bahwa setiap pemimpin harus memikul tanggung jawab terbesar sebagai orang berwenang memutuskan sesuatu untuk dilaksanakan.



11.  JUJUR, RENDAH HATI, SEDERHANA DAN DAPAT DIPERCAYA.
Sikap jujur, rendah hati dan sederhana dalam setiap perbuatan akan menimbulkan kepercayaaan orang lain. Sikap tersebut bukan untuk dipamerkan dalam arti ditunjukan dengan cara dibuat-buat sebaiknya dapat menghilangkan kepercayaan orang lain, kejujuran, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya harus menjiwai dan tercermin dalam setiap gerak dan tingkah laku yang wajar.

12.  BIJAKSANA DAN SELALU BERLAKU ADIL
Seorang pemimpin harus bijaksana dan adil dalam membagi  pekerjaan dan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang bekenaan dengan perseorangan atau kelompok-kelompok kecil didalam berorganisasi. Pembagian pekerjaan dan tugas-tugas harus memperhatikan bobot-bobotnya, yang harus seimbangan antara satu dengan yang lain demikian pula dalam melimpahkan wewenang dan tanggungjawab dan dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman-hukuman. Adil tidak berarti menyamaratakan. Adil harus diiringi dengan kebijaksanaan dengan memperhatikan batas-batas kemampuan dalam pembagian tugas-tugas dan hukuman seseorang atau kelompok. Dengan demikian adil dan bijaksana mengandung juga pengertian mampu mengambil keputusan secara wajar dan tepat walaupun berbeda antara satu dengan yang lain.

13.  DISIPLIN
Seorang pemimpin harus berusaha dengan sungguh-sungguh  dalam menegakkan disiplin kerja, disiplin waktu dan dalam mentaati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan didalam organisasi lembaga yang dipimpinnya. Menegakan disiplin hanya mungkin dilakukan apabila pemimpin itu sendiri telah mampu mendisiplinkan dalam segala aspek seperti disebutkan diatas.

14.  BERPENGETAHUAN DAN BERPANDANGAN LUAS
Seorang pemimpin harus selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Pemimpin tidak boleh bersifat tertutup dan menolak setiap perubahan dan pembaharuan yang mungkin berbedan dan asing baginya, sikap terbuka itu harus mendorong untuk berpikir rasional dan logis dalam menghadapi setiap pembaharuan dan perubahan, agar mampu menerima secara objektif dan bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan. Disamping itu seorang pemimpin harus mampu melihat bidang tugasnya dengan bidang-bidang lain yang mempengaruhinya. Pengetahuan yang cukup luas akan membantu pertumbuhan pribadinya secara professional sehingga kemampuannya akan dalam mewujudkan kepemimpinannya, terutama dalam mengambil keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi pengembang dan kemajuan organisasi atau lembaga yang dipimpinya.

15.  SEHAT JASMANI DAN ROHANI
Sehat jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap perwujudan kepemimpinan yang efektif. Kesehatan dalam kedua aspek itu memungkinkan seorang pemimpin mengikuti, mengembangkan dan mengawasi berbagai kegiatan organisasi dan orang-orang yang dipimpinnya secara tepat, cepat dan bijaksana. Dari uraian diatas  jelas bahwa syarat-syarat kepemimpinan sehingga menjadi lebih lengkap, dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa seseorang yang akan menjadi pemimpin yang efektif apabila memiliki kelebihan dari orang-orang yang dipimpinnya. Kelebihian itu tidak berarti adalah manusia yang sempurna yang memiliki semua sifat baik manusia, akan tetapi tidak dapat disangkal bahwa pemimpin seharusnya berusaha memiliki kesempurnaan itu atau sekurang-kurangnya kesempurnaan dalam beberapa sifat yang penting diantara semua sifat-sifat tersebut diatas.
Penutup
Demikianlah uraian mengenai 15 persyaratan untuk pemimpin yang efektif dan efisien, semoga saja dijadikan resep bagi kita yang belum mengetahui tentang kepemimpinan. Dari penulis mudah-mudahan bermanfaat terutama bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Dan mudah-mudahan dijadikan pedoman bagi yang belum mengenyam pimpinan pendidikan maupun yang sudah menjalani kepemimpinan.
















Why I'm Always Broke

Why I'm Always Broke
         Do you know why I don't apply the many available management positions?
Because I have integrity. I wouldn't blatantly lie and throw a hard working associate under the bus to cover up a mistake I made. I wouldn't stab people in the back to get them fired or transferred because I didn't like working with them. I wouldn't say one thing to a person's face and then something completely different behind their back. I wouldn't shove my head so far up corporate's ass that I forget that my associates are real people with real limitations.
Because I'm not lazy. I don't feel comfortable sitting in the office all day and complaining about the people who work hard for me. I can't stand around and do nothing while writing up associates for not doing the work of three people each. I wouldn't find the time to conveniently go on my tenth cigarette break of the day when the understaffed store becomes busy. I would get tired of walking from one end of the store to another, desperately trying to avoid any real work.

          Because I am not simple minded. I don't buy into all of the petty, middle school drama that gets dragged into the store from the salon. I'm too in touch with reality to completely ignore all of the factors that affect sales and put the blame entirely on my associates. I'm unable to focus on selling whatever the worthless item corporate is pushing for that week and letting customer service suffer, while wondering why customer service is suffering.
Most importantly, I am beyond frustrated with seeing the complacency with which my friends accept their meaningless, dead-end jobs as something so much more than that and the way in which they expect me to do the same.
Clearly, I have no working capacity to become a manager.

Rabu, 23 Juli 2014

Enam Peran Strategis Orang Tua



             Enam Peran Strategis Orang Tua
1.      Keteladanan
Dalam kontek menggali dan mengembangkan bakat, keteladanan orang tua bisa dalam bentuk loyalitas dan totalitasnya dalam menjalani dan mengembangkan profesi yang dijalani, tidak setengah-setengah, aktif membaca, aktif menulis, dan lain-lain. Keteladanan orang tua menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anak untuk menirunya sedikit demi sedikit, Misalnya, keteladanan dalam bertutur sapa, berinteraksi dengan orang lain, menjalani kewajiban kepada Tuhan dan sesame, mengembangkan ilmu, bernegosiasi, dan lainnya.


2.      Pembuatan Program dan Pengawasan
Program ini bertujuan agar waktu anak berisi hal-hal yang positif. Misalnya, belajar mengenal bakat dan mengembangkannya, bermain, berinteraksi, menonton televise, dan lainnya. Anak memiliki waktu belajar mata pelajaran sekolah, berkarya secara bebas sesuai dengan minat untuk menggali bakat terbesarnya, membaca buku-buku yang disukai. Program ini harus disertai pengawasan ketat. Sebab, di zaman sekarang, pengaruh teman dan lingkungan sangat besar. Pengawasan diperlukan untuk memastikan anak disiplin menjalankan program yang telah di musyawarahkan dan disepakati bersama.
3.      Penghargaan
Penghargaan atau rewad ini lebih mendidik dan bisa menambah rasa percaya diri dan keyakinan anak. Orang tua juga harus hati-hati, jangan sampai menjadi sombong, menyepelekan, dan merendahkan orang lain. Disinilah pentingnya membekali secara lengkap, yang tidak hanya bertumpu pada intellectual quotient (IQ), tapi juga emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ). stabilitas emosi, ketekunan, rendah hati, kegigihan, dan kedekatan dengan Tuhan menjadi nilai-nilai penting bagi anak dalam menggapai tangga kesuksesan.
4.      Menciptakan Lingkungan yang Kondusif
Lingkungan sangat  berpengaruh terhadap karakter anak didik. Teman, pergaulan, suasana lingkungan, tempat anak tumbuh dan berkembang membentuk karakter anak yang keras, lemah lembut, berperilaku santun, atau sebaliknya. Organisasi lingkungan sangat bermanfaat untuk semua kepentingan, misalnya membahas ekonomi rakyat, pendidikan, kenakalan, kemasyarakatan, dan lainya. Jangan hanya menyerahkan kepada proses alam, karena maksimalisasi usaha sangat menentukan keberhasilan program dengan tetap berdoa kepada Tuhan agar diberi kemudahan dan kesuksesan.
Orang tua tidak boleh menggantungkan kesuksesan anak pada lembaga pendidikan tanpa ikut terlibat aktif dalam mengawal dan mengawasi perkembangan anak. Jika orang tua tidak sungguh-sungguh mengawal proses pendidikan anak, sangat besar kemungkinan anak terjerumus dalam pergaulan bebas yang merusak karakter dan kualitasnya. Tidak ada waktu bersantai bagi orang tua dalam mengawasi dan membantu lembaga pendidikan dalam mendidik anaknya secara intensif dan ekstensif dengan program-program berkualitas, kompetetif, dan produktif.

Senin, 07 Juli 2014

Peran Orang Tua dalam Pengembangan Bakat



Peran Orang Tua dalam Pengembangan Bakat

Orang tua merupakan sosok yang semestinya paling mengetahui dan bertanggung jawab atas potensi anak. Karena anak lahir, tumbuh, dan bekembang secara fisik dengan orang tua. Menurut  Alum Sumarno (2011), sejak usia dini, anak memiliki potensi yang sangat besar. Sedangkan, Utami Munandar, seorang pakar kreativitas Indonesia,  menyatakan bahwa kapasitas otak anak pada usia 6 bulan sudah mencapai sekitar 50% dari seluruh potensi orang dewasa. Tingkat perkembangan intelektual otak anak sejak lahir sampi usia 4 tahun mencapai 50%. Oleh karena itu, pada masa 4 tahun pertama ini, sering disebut juga sebagai golden age (masa keemasan), karena sianak dapat menyerap setiap rangsangan dengan cepat. Ia mampu menghapal berbagai informasi, seperti perbendaharaan kata, nada, bunyi-bunyian, dan lain sebagainya. Usia 8 tahun ia telah memiliki intelektual otak sekitar 80%. Perkembangan intelektual otak relative berhenti dan mencapai kesempurnaannya (100%) pada usia 18 tahun. Setelah usia di atas 18 tahun intelektualitas otak tidak lagi mengalami perkembangan.
Oleh karena itu, jika para orang tua menyia-nyiakan kesempatan emas (golden age) pada masa kanak-kanak, berarti mereka telah kehilangan satu momen yang sangat baik untukn memberikan ladasan bagi pendidikan anak selanjutnya.  Oleh sebab itu, pendidikan dari orang tua terhadap anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Anak yang memiliki bakat tertentu, jika tidak diberikan rangsangan-rangsangan atau motivasi dari orang tua dan lingkungannya, maka anak tersebut tidak akan mampu memelihara bakatnya, apalagi mengembangkannya.
Berdasarkan penelitian di sebuah sekolah, ditemukan kurang lebih 40% anak berbakat tidak mampu berprestasi setara dengan kapasitas dimiliki (Achir, 1990). Akibatnya, meskipun memiliki kemampuan yang tinggi, banyak anak berbakat tergolong kurang berprestasi. Untuk memberikan motivasi kepada anak berbakat, orang tua atau pendidik perlu melakukan penelaahan agar dapat mengenali ciri-ciri, kebutuhan, dan kecenderungan si anak yang relative berbeda dengan anak biasa.  Menurut Renzulli, bakat meliputi tiga cluster ciri, yaitu kemampuan umum yang tergolong diatas rata-rata (above average ability), kreativitas yang kaya (creativity), dan pengikatan terhadap tugas (task commitment).
Sementara itu, keluarga merupakan lingkungan  yang paling banyak mempengaruhi kondisi psikologis dan spiritual anak. Di Jepang, kreativitas anak mendapatkan perhatian yang sangat tinggi. Hal ini dilakukan melalui kebebasan dan pemupukan kepercayaan diri. Kebangkitan kreativitas anak-anak di Jepang mengungguli anak-anak di Amerika dan Eropa (Awwad, 1995). Menurut utami Munandar, kondisi sangat menunjang perkembangan kreativitas dan penuntun umum untuk mengembangkan kreativitas anak didik. Strategi yang digunakan untuk mengembangkan kreativitas adalah 4P, yaitu dilihat dari segi pribadi, pendorong, proses, dan produk.
Sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan dan masa depan anak, keluarga jangan sampai pasif dan apatis terhadap anak-anaknya. Seperti terjerumus dalam pergaulan bebas, tidak mendorong anaknya kearah kegiatan yang positif-konstruktif, dan hanya mementingkan aspek finansial. Banyak keluarga yang merasa rugi dan menyesal berat ketika hanya mementingkan karier pribadi dan kemapanan finansial, sementara pendidikan anak mereka diserahkan kepada pembantu dan orang lain.
A.    Macam-Macam Tipe Orang Tua
1.        Otoriter
Tipe ini adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan keras dan kaku. Semua perintah yang dikatakan orang tua harus dituruti oleh anaknya. Orang tua dengan tipe ini cenderung galak dan sering marah. Dampak terburuk dari sikap otoriter orang tua ini adalah dapat menimbulkan depresi anak, hubungan anak dan orang tua tidak akrab, anak cenderung menurut karena takut, dan dapat mengakibatkan dendam pada anak.
2.        Permisif
Yakni orang tua yang selalu mengikuti semua kemauan anak atau terlalu memanjakan anak. Sifat ini akan membentuk pribadi anak yang kurang baik. Dampak negatifnya adalah anak cenderung tidak ulet dalam usaha mencapai sesuatu, cepat menimbulkan tugas yang sulit, lebih banyak menuntut kepuasan segera tanpa usaha yang sungguh-sungguh, cenderung mengandalkan orang lain, kurang memiliki rasa tanggung jawab, suka merengek bahkan merajuk hingga keinginannya terpenuhi, dan control impuls yang buruk bagi anak.
3.        Mengabaikan
Tipe ini menunjukan bahwa orang tua mengabaikan apapun yang dilakukan oleh anak, baik berbahaya ataupun tidak. Misalnya, orang tua tidak mengindahkan kegiatan bermain sang anak, sudah makan atau belum, atau dengan siapa bermain. Dampaknya yaitu timbulnya prilaku yang agresif, liar pada anak. Akan tetapi, keberaniannya cenderung negative. Anak juga kurang terawatt, badan bias kurus dan sering sakit-sakitan. Anak lebih sulit dinasehati dan cenderung membangkang disbanding yang dapat kasih sayang dan perhatian orang tua.
4.       Timbal Balik
Yakni Orang tua yang mempertimbangkan secara rasional setiap keputusan yang diambil bersama. Kondisi seperti ini anak menimbulkan rasa percaya diri pada anak. Komunikasi antara anak dan orang tua menjadi lebih dekat. Anak merasa diperhatikan, dipenuhi haknya, dan cenderung lebih penurut. Misalnya, ada kesepakatan antara anak dan orang tua, jika membantu ibu, ibu menyapu halaman, nanti diajak kepasar dan lain-lain.
Dari keempat pola mengasuh anak tersebut, secara umum, dibuktikan dalam berbagai penelitian bahwa pola pengasuhan anak paling efektif adalah harus dengan konsisten, memberikan pengahargaan (reward) terhadap prilaku yang baik, dan memberi hukuman (punishment) untuk prilaku yang tidak diinginkan. Hukuman yang diberikan harus dalam koridor lingkungan yang hangat dan penuh cinta kasih, bukan hukuman yang berupa penyiksaan.  Orang tua adalah pengukir watak anak yang pertama, sehingga perannya sangat signifikan dan tergantikan.
B.     Menjadi Orang Tua yang Aktif
Orang tua yang aktif adalah keharusan, jangan sampai menunggu anak. Orang tua harus aktif mengamati kepribadian, karakter, minat, hobi, dan kesenangan anak. Pelajaran apa yang disukai, kegiatan ekstra kulikuler apakah yang disenangi, dan aktivitas apakah yang dilakukan anak ketika waktu kosong?  Jika anak menunjukan gejala negative, orang tua harus cepat memberi obat supaya tidak kebablasan. Awalnya , tentu berat. Oleh sebab itu, orang tua harus cepat tanggap mengamati realitas ini.
Selain itu, orang tua juga harus membentuk anak dan membimbingnya ke jalan masa depan dengan kegiatan-kegiatan prospektif yang bermanfaat bagi akal, jiwa, dan mentalnya. Metode pendidikan yang diterapkan orang Yahudi sehingga mampu melahirkan anak-anak genius bias diadobsi dan dikembangkan. Orang tua sejak kecil mendidik anaknya untuk menguasai beberapa hal penting. Ialah, menguasai bahasa asing, khususnya inggris, arab, dan Hebrew. Tidak heran jika anak-anak yahudi pada usia 8 tahun sudah bisa belajar berbagai macam disiplin ilmu dengan cara membaca literature bahasa Inggris, meskipun disiplin keilmuannya tetap disesuaikan dengan usia anak-anak, seperti cerita, kewarganegaraan, IPA, Fisika, kimia, matematika, dan lain-lain. Ada banyak cara yang digunakan untuk menguasai bahasa asing ini. Pertama, mendatangkan guru privat dan setiap hari bekomunikasi dengan bahasa asing. Kedua, bermain music, yaitu bermain piano dan biola. Ketiga, menetapkan pelajaran yang wajib dikuasai. Pelajaran tersebut ialah matematika berbasis berniaga, IPA, olah raga, dan sains.
Tiga tips orang Yahudi dalam meningkatkan kecerdasaan otak anak mereka tersebut bias dijadikan pelajaran berharga bagi orang tua di Indonesia jika ingin melahirkan sosok-sosok kader masa depan dengan kualitas dunia. Orang tua negeri ini juga bias mencontoh model pendidikan di Negeri Iran. Menurut Zuhairi Misrawi (2011), di Iran, anak-anak didorong agar menghafal al-qur’an. Setelah hafal, kemudian dimasukan kedalam perpustakaan agar membaca semua literature dari Barat dan Timur.  Penguasaan bahasa asing menjadi keniscayaan. Kemudian, dilatih berdialog dalam berbagai perspektif, baik teologis, sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, kebudayaan, politik, filsafat, dan lain-lain. Walaupun kontoversi nuklir Iran terus menjadi sasaran kritik Barat, namun Iran tetap bergeming dan terus melangkah menuju modernisasi teknologi tingkat dunia.
Model pendidikan orang-orang Yahudi dan Iran itu mampu melahirkan kader-kader masa depan yang dasyat dan spektakuler. Orang tua di negeri ini sangat mampu mengikuti jejak dua Negara maju tersebut jika memiliki kemauan kuat dan semangat membara. Bakat anak akan semakin terasah dengan model pendidikan progresif dan visioner ala Yahudi dan Iran.
Beberapa faktor yang mempengaruhi tampilnya bakat seorang anak. Di antaranya adalah sebagai berikut .
  1. Konsep Diri
orang dengan konsep diri positif selalu yakin akan sesuatu yang sedang dilakukannya. Itu sebabnya, ia lebih mudah meraih sukses. Konsep diri positif terbentuk bila anak selalu dihargai berdasarkan potensi actual yang dimiliki.
Konsep diri anak terbentuk melalui kontak dengan orang lain dan lingkungan. Kontak pertama adalah dengan orang tua. Agar anggota keluarga berperan efektif bagi pembentukan konsep diri anak, perhatikan faktor-faktor berikut :
a.      Kenali potensi anak yang sesungguhnya dengan cara mengamati perkembangan fisik, kognitif, emosi, social, dan lain-lain.
b.      Merangsang anak melakukan berbagai kegiatan.
c.       Membantu anak mengatasi ketidakberhasilan dalam suatu tugas.

  1. Motivasi
Faktor motivasi berhubungan dengan kuatnya daya juang untuk mencapai suatu sasaran. Jika kurang motivasi untuk menjadi ahli music, maka rintangan kecil saja dalam belajar music sudah dapat menghilangkan semangat berlatih, sehingga bakat music kurang berkembang.
  1. Nilai atau Value
Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya bakat adalah nilai, yaitu cara seseorang memberi arti terhadap pekerjaan yang menjadi bakatnya.
Tiga faktor tersebut sangat mempengaruhi kepribadian atau bakat anak, dan menjadi kunci orang tua dalam mengembangkan bakat tersebut. Di antaranya adalah sebagai berikut:
a.      Menerima anak sebagai pribadi yang unik, yang mempunyai ciri khas dan berbeda dengan anak-anak lain. Orang tua tidak boleh menuntut anak agar selalu melakukan hal-hal yang sama dengan anak-anak lainnya.
b.      Menumbuhkan sikap mandiri dan tanggung jawab anak terhadap diri sendiri.
c.       Menumbuhkan minat dan rasa ingin tahu anak.
d.     Menumbuhkan kepercayaan diri anak.
e.      Membantu anak mengenal bakat dan kemampuannya, dan memberi kesempatan kepadanya untuk mengembangkan.
Perkenalkan anak dengan bermacam-macam pengalaman dan perdalamlah pengalamannya. Makin banyak dan bervariasi hal-hal baru yang dilihat dan diduga anak, makin tertarik pula ia untuk mengalami dan mencoba berbagai macam hal. Dorong dan rangsanglah anak untuk mengembangkan semua minat yang dimiliki. Pendekatan ini lebih mampu membentuk karakter anak, dan sifatnya permanen. Berbeda halnya dengan pendekatan emosional-subjektif, yang membentuk watak temperamental pada anak, serta menghilangkan objektivitas dan efektivitas dalam jangka panjang.
C.    Peran Ibu terhadap Perkembangan Anak.
Ibu adalah sosok yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu selalu mewarnai anak-anaknya. Maka, ibu harus berperan besar dalam menggali dan mengembangkan bakat anak. Sedangkan, bapak biasanya disibukkan oleh urusan ekonomi keluarga dari pagi hingga sore, bahkan tidak sering kali sampai malam hari. Ada juga orang tua tidak bias tidur dirumah karena urusan bisnis di luar negeri.
Menurut Hassan Syamsi Basya, banyak penyebab yang memicu timbulnya perasaan minder pada anak. Diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Anak tidak dibiasakan bergaul dengan sesama.
  2. Orang tua berlebihan dalam memanjakan anak.
  3. Mendidik dengan sikap keras serta sering mencela dan mencercanya di hadapan orang lain karena sebab sepele. Akibatnya, anak tidak memiliki kepercayaan diri dan selalu merasa rendah hati.
  4. Tidak mendapatkan perhatian dan curahan kasih sayang dari orang tua.
  5. Anak mengalami keterasingan.
  6. Anak mengalami gangguan kesehatan.
  7. Anak tidak mampu menghafalkan kata-kata dengan baik, misalnya gagap atau cadel.
  8. Karena faktor material. Misalnya, pakaian jelek atau kondisi keluarga sangat kekurangan, tubuh kurus karena pola makan tidak sehat, uang jajan atau saku minim, atau perlengkapan sekolah lebih jelek dan tidak selengkap milik teman-temannya.
  9. Faktor social, karena orang-orang menganggap rendah si anak. Misalnya, karena kurang cerdas, nilai sekolah buruk, dan lain-lain.
  10. Terlambat dating kesekolah.
Menghadapi anak seperti ini, orang tua harus melakukan beberapa langkah penyelamatan, berikut langkah-langkahnya;
  1. Memberi motivasi kepada anak agar lebih percaya diri.
  2. Jangan membanding-bandingkan anak anda dengan anak lain yang lebih cakat atau pintar.
  3. Jangan mengkritik anak anda dihadapan orang lain.
  4. Kenalilah pemicu rasa minder pada diri anak, dan bagaimana pula pemicu itu tumbuh dan berkembang.
  5. Upayakan untuk menciptakan lingkungan keluarga yang  nyaman, tenang, dan penuh kasih sayang.
  6. Jangan menyuruh anak melakukan sesuatu diluar batas kemampuan.
  7. Orang tua harus menghindari pikiran membentuk anak, karena ia bukanlah tanah liat di tangan pematung.
  8. Jangan paksa anak menganut perilaku tertentu.
  9. Latihlah anak anda dalam menjalin persahabatan dengan teman-temannya.
  10. Bantulah anak anda mengeluarkan semua potensinya, seperti dalam permainan tertentu atau potensi melukis, menari, dan lain-lain. Jika ia diberi kesempatan untuk mengembangkanpotensinya, kepercayaan dirinya akan tumbuh kuat, dan ia akan merasa bangga saat bergaul dengan teman-temannya.
  11. Perlakukan anak anda dengan penuh kasih sayang. Jangan terlalu dimanjakan dan jangan pula terlalu keras kepadanya.
  12. Tunjukanlah kepada anak bahaya dengki dan iri hati.
  13. Berilah pengertian bahwa rasa takut dan gelisah ketika bergaul di tengah masyarakat merupakan hal wajar yang dirasakan oleh banyak anak. Jangan membesar-besarkan masalah itu.
  14. Pahamilah perasaan, pemikiran, dan kegelisahan anak anda, terutama jika ia menunjukkan rasa minder yang berlebihan.
  15. Hindarilah menjuluki anak anda dengan sebutan yang jelek, seperti penakut, lemah, bodoh, dan lain sebagainya.
  16. Berilah kesempatan kepada anak anda agar ia dapat mengaktualisasikan diri.
  17. Latihlah anak anda bergaul dengan sesame di tengah masyarakat, baik dengan teman-teman sebayanya maupun orang dewasa. Luangkan waktu sekitar lima atau sepuluh menit setiap hari untuk melatih anak bergaul.
  18. Minatlah anak membaca cerita di hadapan keluarga atau teman-temannya. Ketika ia bercerita, jangan banyak mencela atau mengganggunya.
  19. Jangan pernah menyerah dan berputus asa ketika anda berupaya menghilangkan rasa minder pada anak. Biasanya, keadaan anak menjadi lebih baik seiring bertambahnya usia, banyaknya latihan, dan kepercayaan diri yang tinggi.
Kepercayaan diri anak sangat penting demi mengeluarkan semua potensinya secara maksimal disinilah potensi yang dimiliki anak akan melesat dengan cepat bak panah mengenai sasaran yang dituju. Menurut Jumiarti Agus, menggali potensi anak membutuhkan beberapa langkah. Diantaranya adalah sebagai berikut.



1.      Mengenalkan sesuatu Kepada Anak
Apaun bakat anak yang akan digali misalnya supaya anak menyukai buku, pintar menggambar, menyenangi music, dan segala macam yang diinginkan ole orang tua semuanya harus dimulai dari tahap pengenalan. Cara pengenalan pun bisa dilakukan sesuai dengan kondisi keluarga. Tak perlu membutuhkan waktu khusus, tapi dapat saja berbarengan dengan aktivitas lain.
2.      Mengamati Kecenderungan Anak
Jika anda ingin menggali bakat anak yang belum jelas, anda bisa mengamati kecenderungan anak. Buatlah catatan tentang kemajuan anak, hingga anda mempunyai referensi yang jelas untuk mengarahkan terwujudnya dan munculnya bakat anak tersebut.
3.      Memberikan Respons terhadap Kecenderungan Anak
Setelah anda mempunyai data tentang kecenderungan yang muncul dari anak, berikanlah respons anda kepadanya. Hal ini juga membantu kita supaya mengenal bakat atau potensi anak yang bersangkutan.
4.      Membantu Tumbuh Kembangnya Bakat Anak
Ini artinya, orang tua harus menyediakan waktu bersama anak. Ketika anak meminta agar dibuatkan gambar sesutau, cobalah berusaha memenuhi keinginan tersebut. Permintaannya itu berarti wujud dari kecenderungan dan ketertarikan terhadap sesuatu. Jangan berkata “aduh, Mama nggak bisa.” Berusahalah dahulu dengan maksimal. Mengatakan  tidak bisa memenuhi permintaan anak atau alasan sibuk mengerjakan sesuatu adalah tindakan yang menyebabkan tertutupnya cikal bakal bakat anak anda.
  1. Memberikan Penghargaan atas Usaha Anak
Jika anak telah berbuat sesuatu, walaupun kecil, berilah ia pujian agar senantiasa semangat dan berkarya. Sebagian anak malah menyodorkan karya-karyanya kepada ayah dan ibunya. Ini artinya si anak meminta dihargai,  disuport oleh orang tua. Jika anak belum bisa mengekspresikan hal tersebut, informasi ini bisa diterapkan kepada balita anda. Tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan. “Good job, pintar atau bagus,” kepada anak-anak kita.
  1. Memupuk Bakat Anak
Bakat anak tidak keluar secara spontan. Untuk itu, kecenderungan dan ketertarikan anak pada sesuatu yang bernilai positif perlu dipupuk. Hal ini dilakukan agar kesukaan anak benar-benar teridentifikasi.
  1. Berkarya Bersama Anak
Agar anak termotivasi, sediakan waktu anda untuk menemani anak dalam berkarya. Anak akan merasa senang jika ditemani beraktivitas, sehingga, anda bisa dengan mudah menggali potensi yang terpendam pada diri anak.
  1.  Memberi Support dan Melengkapi Sarana
Jika bangat anak telah terlihat, maka brikanlah dukungan sebagai penunjang bakat tersebut. Lengkapi sarana penunjang. Tak harus mahal, semuanya bisa disiasati. Najmi tak harus mahal, semuanya bisa tersiasati. Najmi tak harus menggambar di kertas HVS cantik, atau buku gambar, tapi kertas apa saja, termasuk bekas print saya yang halamannya kosong.
  1. Mewaspadai Aktivitas Anak
Orang tua perlu waspada dalam menggali dan menemukan bakat anak. Namanya juga anak kecil, ia belum mutlak bisa membedakan yang baik dan yang jelek. Untuk itu, hindari hal-hal yang tak diinginkan. Misalnya dalam kasus anak yang hobi menggambar, amankan dokumen penting anda agar tidak digambar oleh anak.
  1. Mengembangkan Bakat Anak
Jika kita mengamati kecenderungan anak, sebenarnya ia ingin terus berkembang. Angar bakat anak tidak hilang, kembangkan bakatnya. Banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya, jika anak anda suka menggambar, manfaatkan potensinya untuk membuat hiasan pada bajunya yang anda jahit. Membuat kartu bermain sendiri, membuat pajangan unik menggunakan gambar anak anda, dan lainnya. Cara pandang anak terhadap kehidupan akan terbuka. Ia menikmati hari- harinya sebagaimana orang tuanya, yang juga mempunyai program atau kegiatan. Sebab, setiap hari, ia bisa menyalurkan energinya untuk mengaktualisasikan keinginannya.
Memang, tidak mudah menjadi ibu professional sehingga mampu melahirkan kader pengharum bangsa. Dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tepat. Semangat belajar ibu dalam menggali dan mengembangkan bakat tidak boleh padam. Sebab, semangat besar orang tua inilah yang akan menular pada diri anak. Anak akan mengamatu orang tua dan menirunya, sehigga sepak terjang orang tua menjadi sumber motivasi, inspirasi, dan nilai bagi anak dalam mengarungi kehidupan.
D.    Enam Peran Strategis Orang Tua
1.      Keteladanan
Dalam kontek menggali dan mengembangkan bakat, keteladanan orang tua bisa dalam bentuk loyalitas dan totalitasnya dalam menjalani dan mengembangkan profesi yang dijalani, tidak setengah-setengah, aktif membaca, aktif menulis, dan lain-lain. Keteladanan orang tua menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anak untuk menirunya sedikit demi sedikit, Misalnya, keteladanan dalam bertutur sapa, berinteraksi dengan orang lain, menjalani kewajiban kepada Tuhan dan sesame, mengembangkan ilmu, bernegosiasi, dan lainnya.


2.      Pembuatan Program dan Pengawasan
Program ini bertujuan agar waktu anak berisi hal-hal yang positif. Misalnya, belajar mengenal bakat dan mengembangkannya, bermain, berinteraksi, menonton televise, dan lainnya. Anak memiliki waktu belajar mata pelajaran sekolah, berkarya secara bebas sesuai dengan minat untuk menggali bakat terbesarnya, membaca buku-buku yang disukai. Program ini harus disertai pengawasan ketat. Sebab, di zaman sekarang, pengaruh teman dan lingkungan sangat besar. Pengawasan diperlukan untuk memastikan anak disiplin menjalankan program yang telah di musyawarahkan dan disepakati bersama.
3.      Penghargaan
Penghargaan atau rewad ini lebih mendidik dan bisa menambah rasa percaya diri dan keyakinan anak. Orang tua juga harus hati-hati, jangan sampai menjadi sombong, menyepelekan, dan merendahkan orang lain. Disinilah pentingnya membekali secara lengkap, yang tidak hanya bertumpu pada intellectual quotient (IQ), tapi juga emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ). stabilitas emosi, ketekunan, rendah hati, kegigihan, dan kedekatan dengan Tuhan menjadi nilai-nilai penting bagi anak dalam menggapai tangga kesuksesan.
4.      Menciptakan Lingkungan yang Kondusif
Lingkungan sangat  berpengaruh terhadap karakter anak didik. Teman, pergaulan, suasana lingkungan, tempat anak tumbuh dan berkembang membentuk karakter anak yang keras, lemah lembut, berperilaku santun, atau sebaliknya. Organisasi lingkungan sangat bermanfaat untuk semua kepentingan, misalnya membahas ekonomi rakyat, pendidikan, kenakalan, kemasyarakatan, dan lainya. Jangan hanya menyerahkan kepada proses alam, karena maksimalisasi usaha sangat menentukan keberhasilan program dengan tetap berdoa kepada Tuhan agar diberi kemudahan dan kesuksesan.
Orang tua tidak boleh menggantungkan kesuksesan anak pada lembaga pendidikan tanpa ikut terlibat aktif dalam mengawal dan mengawasi perkembangan anak. Jika orang tua tidak sungguh-sungguh mengawal proses pendidikan anak, sangat besar kemungkinan anak terjerumus dalam pergaulan bebas yang merusak karakter dan kualitasnya. Tidak ada waktu bersantai bagi orang tua dalam mengawasi dan membantu lembaga pendidikan dalam mendidik anaknya secara intensif dan ekstensif dengan program-program berkualitas, kompetetif, dan produktif.